Thursday, July 19, 2012

Artikel Terkait

Bangsa Indonesia nyaris kehilangan budaya malu, disebabkan untuk mengukur kemajuan atau sukses suatu bangsa lebih menggunakan pendekatan pada sumber daya, kesukuan dengan menjauhkan budaya hidup positif dalam kehidupan sehari-hari.
Sukses suatu organisasi, negara dan seseorang sesungguhnya juga ditentukan pada budaya hidup, bukan pada kemampuan tingkat kecerdasan, warna kulit dan sumber daya alam yang dimiliki, kata trainer leadership Imam Muhtadi pada pelatihan pembinaan mental bagi pegawai Biro Kepegawaian Kementerian Agama di Bogor, Kamis.

Sekitar 150 orang hadir pada kegiatan itu, termasuk Kepala Biro Kepegawaian Dr. H. Mahsusi. "Budaya malu sudah tercabut dari bumi pertiwi," kata Imam Muhtadi.
Budaya hidup sangat menentukan bagi kemajuan suatu bangsa. Budaya malu perlu dikedepankan, sebab seberapa besar tingkat kesalahan seseorang akan mempengaruhi kinerja suatu organisasi. Jika yang bersangkutan salah, lantas mundur dan melepas jabatannya maka hal itu merupakan sikap terpuji sebelum ke depannya merugikan banyak orang, kata Imam Muhtadi.
Hal itu bisa dilihat dari budaya malu di Jepang. Orang setingkat menteri saja mundur karena berbuat salah. Tanpa diminta. Bahkan ada yang melakukan harakiri atau bunuh diri, karena budaya malu demikian kuat. Di negeri itu juga orang menghormati orang tua, di kantor maupun di rumah.
Jika dilihat dari fenomena yang ada di tanah air, budaya malu benar-benar diabaikan. Seseorang baru mundur dan melepaskan jabatannya setelah masuk bui. Dipaksa untuk mundur. Padahal, dalam Islam, mengejar jabatan sangat dijauhkan. Karena jabatan yang diemban itu melekat tanggung jawab yang diamanahkan kepadanya. Amanah itu harus dipertanggungjawabkan, katanya.
Pada kehidupan sehari-hari, ia memberi contoh, lalu lintas di jalan raya. Kerap kali pengguna jalan raya terjebak melanggar rambu atau jalan di ruas jalan tertentu. Lantas, polisi menghampiri dan bertanya apa anda tahu kesalahannya. Pengguna jalan menjawab mengakui dimana letak kesalahannya. Dan, balik bertanya kepada polisi bahwa dirinya tak tahu pak polisi bersembunyi dimana tahu-tahu cepat datang.
Ketika dialog selesai, ada pengguna jalan lain membuat kesalahan serupa tapi polisi tak menyetop. Ketika ditanya, kenapa dilepas. Polisi menjawab, itu kan pejabat. "Di sini, jelas, ada diskriminasi dalam hukum. Jika hukum diabaikan, jangan harap negeri ini bisa maju," kata Imam yang disambut tawa hadirin.
Ramadhan introspeksi
Di Indonesia, ia berharap, bersamaan dengan memasuki Ramadhan umat Islam benar-benar dapat melakukan mawas diri atau introspeksi. Momentum tersebut jangan disalahgunakan, seperti mengisi lomba gaplek sambil menunggu sahur dalam menyambut HUT RI, 17 Agustusan. Sungguh memalukan jika nanti jika diumumkan pemenangnya juara lomba gaplek orang-orangnya sudah berhaji.
Sukses seseorang atau suatu negara, lanjut Imam, juga bukan tergantung pada warna kulit, usia dan kepandaian. Negara Mesir tergolong tua, warganya juga banyak yang pandai. Tapi, jika dilihat dan dibanding negara lain, Mesir ternyata tak tergolong negara maju-maju sekali, kata trainer asal Kwitang, Betawi itu.
Kunci sukses, kata dia, harus ikhlas dalam menjalani hidup. Harus bijak dalam mengelola pikiran dan berfikir selalu terbuka (open mind), hindari komplain, banyak bersyukur, respek pada orang lain dan tumbukan kebersamaan dalam bekerja.
http://oase.kompas.com/read/2012/07/20/13360385/Pakar.Budaya.Malu.Sudah.Tercabut.dari.Negeri.Ini

No comments:

Post a Comment